Ketahui Acara Adat Yogyakarta yang Masih Bertahan Hingga Kini

Ketahui Acara Adat Yogyakarta yang Masih Bertahan Hingga Kini

Acara adat Yogyakarta sangat menarik untuk disaksikan. Perhelatan acara tersebut mengusung tema budaya kental Jogja. Sehingga banyak sekali wisatawan yang menantikannya. Bahkan saat pelaksanaannya, banyak pelancong dari berbagai negara yang juga merasa tertarik untuk menyaksikan prosesi adat sangat sakral tersebut.

Pada acara adat biasanya dilakukan beberapa prosesi seperti kirab budaya, pencucian pusaka dan lain sebagainya. Pelaksanaannya sebagai upaya untuk menyelamatkan budaya leluhur secara turun temurun sehingga tidak akan hilang tergerus kemajuan teknologi saat ini yang semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Acara Adat Yogyakarta Paling Menarik

Berikut ini beberapa acara adat liputan jasa artikel jogja yang sering disaksikan oleh wisatawan yaitu sebagai berikut:

1. Upacara Sekaten

Sekaten memang menjadi adat paling populer di Kota Jogja. Acara ini selalu dilaksanakan dalam rangka memperingati akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pelaksanaanya akan dilaksanakan setiap tanggal 5 pada bulan Maulud. Saat puncaknya akan ada ritual grebek mulud, dimana gunungan berisi palawija hasil panen akan di arak dan diperebutkan oleh masyarakat.

2. Upacara Nguras Enceh

Upacara ini merupakan kegiatan untuk menguras gentong yang terdapat di komplek pemakanan para raja Imogiri yang berada di Kabupaten Bantul. Pelaksanaannya yakni setiap malam Jumat atau Selasa Kliwon di bulan Sura dengan tujuan membersihkan hati serta pikiran agar manusia lebih suci terhindari dari sifat dengki.

3. Upacara Bekakak

Bekakak dilaksanakan setiap bulan Safar sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono. Hal paling unik dari peringatan ini ialah adanya penyembelihan sepasang pengantin laki-laki dan perempuan. Namun bukan pengantin sebenarnya melainkan boneka yang dibuat dari beras ketan. Setiap tahun upacara ini dilaksanakan di Ambarketawang, Gamping, Sleman.

4. Upacara Labuhan di Pantai

Acara labuhan sendiri telah dilakukan sudah sejak jaman dahulu yaitu zaman kerajaan Mataram Islam pada abad lalu yaitu ke XIII. Hingga pada saat ini untuk upacara Labuhan pun masih akan terus dilakukan. Masyarakat Kota Jogja memiliki kepercayaan jika peringatan adat ini akan memberikan keselamatan, kesejahteraan dan ketentraman. Pada dasarnya Labuhan dilakukan di empat titik yakni di Wonogiri, Parangtritis, Pucak Gunung Lawu dan Puncak Merapi.

5. Siraman Pusaka

Adat keraton yang kini masih bertahan dan diperingati setiap tahunya yakni siraman pusaka. Tradisi tersebut dilakukan setiap bulan Suro di hari Jumat atau Selasa Kliwon di pagi hari hingga siang hari selama dua hari. Seluruh pusaka Kraton seperti tombak, keris, pedang, kereta, ampilan dan lain sebagainya akan dicuci agar kembali bersih.

6. Tumplak Wajik

Acara satu ini banyak disaksikan warga Jogja dan wisatawan asing. Dimana pada acara tersebut akan ada musik kotekan menggunakan kentongan, lumpang dan lainnya. Peringatan ini dilakukan dalam rangka membuat gunungan yang nantinya akan digunakan pada acara Grebeg Muluda.

Acara yang dilakukan oleh masyarakat dan penghuni Kraton Kasultanan Yogyakarta memang berbau magis dan kental unsur budaya kejawen. Wisatawan mancanegara berdatangan sebab mereka merasa tertarik dan penasaran dengan jalanannya peringatan acara adat Yogyakarta tersebut.

Yogyakarta